Kopi klotok, Jogya : 30.November 2025. Widi, Yulita, Ningsih
Oleh. Amir Mahmud
Perjalanan singkat dari Solo menuju Jogja dengan mobil kecil berpenumpang dua orang—saya dan istri—selalu menyimpan cerita tersendiri. Sejak malam minggu sebelumnya, kami menghadiri resepsi pernikahan anak rekan saya dari Polda Kaltim di sebuah hotel bintang lima Yogyakarta. Suasananya hangat, penuh penghormatan, dan terasa sangat hikmat. Namun pagi harinya, kami harus kembali ke Solo, melalui jalur Kaliurang, tepat di depan salah satu kampus besar Universitas Islam Indonesia.
Di tengah perjalanan itu, rasa lapar membawa kami singgah di sebuah warung makan yang sudah lama dikenal karena nuansa budaya Jawanya: Kopi Klotok. Suasana pagi di sana selalu penuh kesan. Dari kejauhan sudah terlihat antrean panjang, baik saat mengambil makanan maupun saat membayar. Makan saja harus antre—apalagi kalau tidak bayar, pikir saya sambil tersenyum kecil. Namun justru ketertiban itulah yang membuat tempat itu terasa hidup dan beradab.
Di antara riuh antrean dan aroma masakan yang menguar, ada kejadian menarik yang tidak kami duga. Di meja sebelah, duduk tiga perempuan—Mbak Widi, Yulita, dan Ningsih—yang ternyata berasal dari Kalimantan Timur dan Kalimantan Selatan. Meski sudah meminta izin menyebut nama mereka, kami tetap kagum bagaimana percakapan yang awalnya hanya sapaan ringan akhirnya berkembang menjadi obrolan hangat tentang pekerjaan, perjalanan, dan kehidupan.
Mereka bekerja pada di bidang nutrisi , para perempuan tangguh yang tetap menjaga sikap santun sebagaimana lazimnya masyarakat Jawa. Cara mereka berkomunikasi begitu ramah, lembut, dan penuh rasa hormat. Dalam pandangan saya, mereka mencerminkan perempuan-perempuan yang menjunjung tinggi nilai peradaban di mana pun mereka berada.
Dalam suasana itulah, saya teringat firman Allah:
قُلْ سِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَانْظُرُوا كَيْفَ بَدَأَ الْخَلْقَ
“Katakanlah: Berjalanlah di muka bumi, lalu perhatikanlah bagaimana Allah memulai penciptaan.”
(QS. Al-‘Ankabût: 20)
Ayat ini seakan hidup pagi itu—bahwa perjalanan bukan hanya memindahkan tubuh dari satu tempat ke tempat lain, tetapi membuka mata hati untuk melihat ciptaan Allah melalui manusia, budaya, dan perjumpaan yang tidak pernah kita rencanakan.
Ada satu kalimat yang tertinggal di benak saya dalam percakapan kami:
bahwa apa pun yang kita lakukan akan selalu memberikan pengetahuan, sekaligus mengajarkan bagaimana mengontrol diri dalam berbagi komunikasi.
Kalimat sederhana itu mengandung hikmah besar: bahwa dalam perjalanan, kita bukan hanya berpindah tempat, tetapi juga berpindah pemahaman. Kita bertemu orang-orang baru, budaya baru, percakapan baru—dan di sanalah kita menemukan diri kita sendiri.
Perjumpaan singkat di Kopi Klotok itu mengingatkan saya bahwa setiap perjalanan membawa pelajaran. Entah itu dari antrean panjang, keramahan orang asing, atau sekadar obrolan pagi yang tidak disengaja. Semuanya membentuk mozaik kecil tentang peradaban: tentang bagaimana kita menghargai sesama, menata diri, dan mengambil hikmah dari hal-hal yang tampaknya sederhana.
Perjalanan Solo–Jogja pagi itu ternyata lebih dari sekadar perjalanan pulang. Ia adalah perjalanan menuju pemahaman baru—bahwa peradaban sering ditemukan dalam pertemuan-pertemuan kecil yang kita alami tanpa rencana. Editor. Amir
