SEKILAS INFO
Selamat Datang di Website Amir Mahmud Center
Jumat, 5/12/2025

Kapolda Banda Aceh: Latihan Pengamanan Unjuk Rasa Bukan Sekadar Peragaan, Tapi Kesiapan Nyata

Kapolda Banda Aceh . Irjen Pol. Dr. Achmad Kartiko

Banda Aceh – Kapolda Banda Aceh Irjen Pol. Dr. Achmad Kartiko memberikan apresiasi tinggi kepada seluruh personel yang terlibat dalam latihan pengamanan unjuk rasa yang berlangsung selama beberapa hari terakhir. Dalam arahannya, Kapolda menekankan bahwa latihan tersebut bukanlah peragaan semata, melainkan latihan strategis sebagai bentuk kesiapan menghadapi berbagai agenda nasional yang akan digelar dalam waktu dekat di wilayah Banda Aceh.

Pernyataan tersebut disampaikan Kapolda Banda Aceh menjelang peringatan Hari Buruh Internasional (May Day), sebagai bagian dari kesiapan jajaran kepolisian dalam mengantisipasi potensi unjuk rasa dan dinamika sosial yang biasanya meningkat pada momentum tersebut.

“Saya sampaikan apresiasi sebesar-besarnya kepada rekan-rekan sekalian. Latihan ini berjalan dengan baik, aman, damai, dan tidak ada gangguan apa pun. Namun perlu diingat, ini bukan sekadar peragaan. Ini adalah latihan serius sebagai bentuk kesiapan kita,” ujar Irjen Pol. Dr. Achmad Kartiko.

Kapolda mengingatkan bahwa dalam waktu dekat akan ada sejumlah agenda penting seperti peringatan Hari Buruh Internasional, Hari Kebangkitan Nasional, dan potensi kegiatan masyarakat lainnya yang dapat menimbulkan unjuk rasa. Di tengah derasnya arus informasi dan pengaruh media sosial, apa yang terjadi di daerah lain bisa berdampak langsung ke Banda Aceh. Oleh karena itu, personel kepolisian harus tetap siaga dan tidak lengah.

“Jangan anggap Banda Aceh aman-aman saja. Sekarang ini sudah mulai muncul kelompok-kelompok yang ingin memprovokasi dan menciptakan kerusuhan. Kita harus waspada dan tidak boleh terjadi kesalahan sekecil apa pun dalam menangani unjuk rasa,” tegasnya.

Kapolda juga menekankan pentingnya pemahaman hukum bagi seluruh anggota. Menurutnya, kebebasan menyampaikan pendapat di muka umum adalah hak setiap warga negara sebagaimana dijamin dalam UUD 1945 dan Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1998. Tugas Polri bukan membungkam aspirasi, tetapi menjaga agar proses penyampaian pendapat berjalan aman dan tertib.

“Tugas kita adalah mengamankan. Yang kita amankan bukan hanya pengunjuk rasa, tapi juga masyarakat umum dan objek vital yang menjadi titik unjuk rasa. Harus ada keseimbangan antara penegakan hukum dan perlindungan terhadap masyarakat,” kata Kapolda.

Dalam latihan ini, seluruh satuan fungsi diminta untuk berkolaborasi secara optimal. Baik pasukan Dalmas, Sabhara, Brimob, hingga fungsi pendukung seperti Humas, Intelijen, Reskrim, Binmas, dan Lalu Lintas harus bekerja secara terintegrasi dan saling melengkapi. Ia mengingatkan agar tidak ada personel yang bertindak di luar kendali, sehingga dapat menimbulkan ekses hukum atau pelanggaran HAM.

“Semuanya harus dikendalikan oleh komandannya masing-masing. Tidak boleh ada korban, baik dari masyarakat maupun dari anggota kita sendiri. Oleh karena itu, koordinasi antar fungsi mutlak diperlukan,” tambahnya.

Lebih lanjut, Kapolda menggarisbawahi pentingnya tindakan preventif seperti pemetaan potensi kerawanan, deteksi dini terhadap provokator, serta penyuluhan kamtibmas kepada masyarakat. Ia juga menyatakan bahwa lebih baik latihan dilakukan seberat mungkin, daripada tidak siap saat menghadapi situasi sebenarnya.

“Lebih baik kita latihan berdarah-darah, daripada menghadapi situasi nyata tapi tidak siap. Ini tanggung jawab kita bersama,” tutupnya.    ( Editor Amir / Amir Mahmud Center )