SEKILAS INFO
Selamat Datang di Website Amir Mahmud Center
Jumat, 5/12/2025

Komjen Pol. Dr. Marthinus Hukom: Harta Terbaik adalah Pengetahuan akan Kebenaran

LENTERA HIKMAH*        Oleh: Komjen Pol. Dr. Marthinus Hukom

Seringkali dalam hidup, kita disibukkan dengan upaya mengumpulkan harta: bekerja keras, mengejar jabatan, meraih pengakuan. Tak salah memang. Sebab hidup di dunia memang menuntut usaha, perjuangan, dan ketekunan. Tapi di sela-sela hiruk-pikuk itu, saya merenung dalam diam: Apa sebenarnya yang menjadi harta kita yang paling berharga? Di mana sesungguhnya hati kita berlabuh?

Saya sampai pada satu kesadaran yang sederhana namun dalam: Di mana ada harta, di situ hatimu berada. Jika hati kita hanya tertambat pada materi, maka seluruh hidup kita akan digerakkan oleh ambisi duniawi. Kita akan lelah mengejar, takut kehilangan, dan sulit merasa cukup.

Namun ada satu harta yang nilainya jauh melampaui apa pun yang bisa kita genggam dengan tangan: pengetahuan akan kebenaran. Inilah harta sejati. Ia tak bisa dibeli, tak mudah diraih, tapi sangat layak untuk dikejar. Sebab pengetahuan akan kebenaran bukan hanya membuka pikiran, tetapi juga menuntun jiwa. Ia memurnikan niat, membentuk karakter, dan membimbing setiap langkah kita agar tetap berada di jalan yang lurus.

Karena itu saya mengajak: arahkan hatimu pada pengejaran akan pengetahuan dan kebenaran. Jangan biarkan hidup kita habis hanya untuk mengumpulkan apa yang bisa hilang kapan saja. Harta materi bisa lenyap, jabatan bisa dicopot, kekuasaan bisa berpindah tangan. Tapi ketika kita memiliki pengetahuan yang benar dan hidup dalam kebenaran, maka kita telah memiliki sesuatu yang kekal dan tak ternilai.

Tanpa pengetahuan dan kebenaran, harta apa pun dalam genggamanmu tidak akan berguna apa-apa. Ia mungkin memberi kenyamanan sesaat, tapi tidak akan pernah memberi ketenangan batin. Ia mungkin memberi kekuasaan, tapi tak bisa menjamin kita menggunakan kekuasaan itu dengan bijaksana.

Pengetahuan membentuk kesadaran. Kebenaran membentuk keberanian. Dan kedua-duanya membentuk manusia yang utuh—yang mampu berdiri tegak dalam prinsip, rendah hati dalam pengabdian, dan tulus dalam pelayanan.

Di dunia yang penuh tipu daya ini, mari kita kembalikan hati kita pada hal yang paling mendasar: mengejar makna, bukan sekadar angka. Mencari yang benar, bukan hanya yang menguntungkan. Karena di situlah letak kemuliaan hidup manusia.

Semoga setiap langkah kita bukan hanya dikuatkan oleh tekad, tapi juga diterangi oleh pengetahuan, dan dijaga oleh kebenaran. ( AMC )