Oleh. Amir Mahmud
Di banyak desa di Tiongkok, setiap kali seorang anak diterima di universitas ternama, seluruh kampung turun tangan mengantarnya. Bukan sekadar seremoni, tapi peristiwa yang menyatukan masyarakat dalam harapan kolektif: inilah anak kita yang akan mengangkat nama desa, keluarga, dan bangsa.
Bandingkan dengan sebagian realitas kita di Indonesia: anak-anak yang tekun belajar kadang justru dibully, dianggap “rajin berlebihan”, atau menjadi beban ekonomi keluarga yang tak dihargai. Pendidikan belum menjadi kehormatan bersama, tetapi masih dianggap urusan pribadi.
Ada yang keliru dalam narasi kita sebagai bangsa. Dan mungkin, Tiongkok bisa memberi cermin jujur bagi kita.
Warisan Konfusianisme: Belajar Adalah Jalan Menuju Kemuliaan
Tiongkok tidak sekadar menghormati anak-anak yang bersekolah; mereka menempatkan pelajar sebagai pilar masa depan. Dalam ajaran Konfusius, pendidikan adalah inti struktur sosial:
> “学而优则仕” (Xué ér yōu zé shì)
“Barangsiapa unggul dalam belajar, dialah yang pantas memimpin.”
Sejak ribuan tahun lalu, menjadi pelajar bukan hanya pencapaian pribadi, tapi mandat sejarah. Ia adalah calon pemimpin, simbol martabat keluarga, dan tumpuan harapan bangsa
Negara yang Bertaruh pada Kecerdasan Bangsa
Pemerintah Tiongkok memandang pendidikan sebagai strategi pertahanan dan kemajuan nasional. Sistem ujian Gaokao—ujian masuk perguruan tinggi yang brutal dan ketat—menjadi ladang seleksi bagi talenta terbaik.
Tak hanya itu, negara turut membangun infrastruktur pendidikan hingga pelosok desa. Di desa-desa seperti di Provinsi Henan atau Sichuan, ketika seorang anak lolos ke Tsinghua atau Peking University, masyarakat akan:
Melakukan gotong royong biaya keberangkatan
-Mengantar secara kolektif sampai ke stasiun atau universitas
-Memajang fotonya di balai desa
Ini bukan romantisme. Ini strategi sosial. Mereka tahu: satu anak yang berhasil kuliah adalah investasi bagi masa depan komunitas.
Pendidikan Sebagai Proyek Sosial, Bukan Urusan Pribadi
Yang menarik dari fenomena ini bukan hanya peran negara, tapi mentalitas kolektif masyarakat. Di desa-desa miskin, pendidikan bukanlah “jalan individu”, melainkan “jalan keluar bersama”.
Seorang anak yang belajar giat tidak dianggap aneh. Ia dimuliakan. Karena dalam sistem nilai mereka, keberhasilan akademik bukan sekadar untuk mencari kerja, tapi untuk mengubah nasib banyak orang.
Kontras dengan Realitas Kita: Di Mana Salahnya?
Indonesia tidak kekurangan anak cerdas. Yang kurang adalah narasi besar tentang pendidikan sebagai jalan kemuliaan. Kita justru sering menghadapi:
-Anak rajin belajar dikucilkan oleh teman sebaya
-Anak kuliah dianggap menambah beban ekonomi keluarga
-Guru yang berdedikasi tidak dihargai secara layak
Ilmu tidak dianggap alat kemajuan, melainkan hanya syarat administratif
Padahal, nenek moyang kita menjunjung ilmu sebagai cahaya: “Ilmu laksana pelita di tengah gelap malam.” Tapi kini, pelita itu seolah kita biarkan meredup sendiri.
Apa yang Bisa Kita Pelajari?
Kita tidak harus meniru Tiongkok secara membabi buta. Tapi ada tiga pelajaran besar yang bisa kita ambil:
1. Bangun Narasi Publik bahwa Belajar adalah Kemuliaan
Hormati anak-anak yang sedang berjuang belajar. Publikasikan kisah mereka. Bicarakan mereka di forum desa, masjid, atau ruang RT. Jadikan belajar sebagai nilai sosial yang terhormat.
2. Libatkan Komunitas dalam Mendukung Pendidikan
Jika satu anak lolos ke universitas unggulan, bantu dia. Bukan hanya biaya, tapi juga penghormatan simbolik. Kirim mereka seperti kita melepas jemaah haji: dengan doa dan rasa bangga.
3. Perbaiki Keteladanan Akademik
Kita butuh lebih banyak ilmuwan, guru, dan dosen yang jujur, berintegritas, dan hadir di tengah masyarakat. Ketika dunia akademik rusak, maka makna pendidikan pun hancur.
Penutup: Hormati yang Sedang Belajar
Penghormatan terhadap anak-anak sekolah di Tiongkok bukan sekadar budaya kuno, melainkan visi bangsa modern yang tahu bahwa masa depan ditentukan oleh orang-orang yang mau belajar hari ini.
Jika Indonesia ingin menjadi bangsa besar, maka kita harus mulai dari hal paling sederhana tapi paling fundamental: menghormati mereka yang sedang belajar. Editor AMC
