Oleh. Amir Mahmud
(Direktur Amir Mahmud Center)
Beberapa waktu terakhir, ruang internal Polri kembali berdenyut. Sebuah pernyataan dari pimpinan, yang mungkin dimaksudkan sebagai dorongan, justru menimbulkan percakapan serius tentang isu yang sensitif: dikotomi antara Akpol dan non-Akpol.
Isu ini bukan baru, dan bukan pula remeh. Ia adalah bara kecil yang, bila disentuh dengan diksi yang kurang tepat, dapat berubah menjadi api yang mengganggu soliditas institusi.
Soliditas Polri: Fondasi yang Tidak Boleh Retak
Polri sedang berada pada momentum terbaiknya—reformasi diperkuat, kepercayaan publik meningkat, reputasi internasional membaik. Pada momentum seperti ini, organisasi membutuhkan narasi yang mempersatukan, bukan yang membuka ruang tafsir perbedaan.
Akpol dan non-Akpol adalah dua jalur berbeda yang saling melengkapi.
Akpol membawa kekuatan konseptual, strategis, dan kepemimpinan formal.
Non-Akpol membawa kekuatan empiris, pengalaman lapangan, dan kedekatan sosial.
Keduanya adalah pilar, bukan kompetitor.
Yang berbahaya bukan perbedaan karakteristik, melainkan narasi yang memperluas jarak di antara keduanya.
Ketika sebuah pernyataan ditangkap sebagai keberpihakan pada salah satu jalur, efeknya bukan sekadar kontroversi wacana: ia berpotensi melemahkan moral, memupuk resistensi, dan mengganggu performa organisasi. Di institusi dengan struktur komando ketat, setiap diksi memiliki daya membangun atau meretakkan.
Menata Arah: Solusi untuk Menjaga Rumah Besar Polri
Untuk memastikan soliditas tetap kokoh, AMC menekankan tiga langkah strategis:
1. Mengakhiri Narasi Identitas Kader
Promosi, penugasan, dan penghargaan harus berakar pada kompetensi dan integritas, bukan jalur masuk. Meritokrasi adalah benteng utama mencegah polarisasi.
2. Mengakui Keunggulan Masing-Masing Jalur
Kekuatan Polri justru terletak pada kolaborasi antara kemampuan konseptual dan kemampuan empiris. Bukan pada dominasi salah satu.
3. Konsistensi Reformasi Keadilan Karier
Reformasi tidak cukup berhenti pada struktur; ia harus terasa pada rasa keadilan di lapangan. Ketika semua merasa diperlakukan sama, kecemburuan struktural melemah dan profesionalitas menguat.
Hati-Hati dengan Diksi, Karena Diksi Adalah Kebijakan
Polri adalah institusi strategis negara. Ia tidak boleh diguncang oleh narasi yang membuka ruang segregasi, sekecil apa pun bentuknya. Pada ujungnya, yang dipertaruhkan bukan hanya wacana internal, tetapi kepercayaan publik.
Dalam masa transisi menuju Polri yang lebih modern, lebih bersih, dan lebih profesional, setiap kalimat dari level pimpinan harus menjadi perekat, bukan pemisah. Karena Polri kuat bukan karena keseragaman jalur masuk, tetapi karena keseragaman tekad untuk mengadi. Itu yang harus terus dijaga. Editor. Amir
