Amir Mahmud
(Direktur Amir Mahmud Center)
Indonesia adalah negara yang terdiri dari berbagai agama, budaya, suku, dan adat istiadat. Keragaman ini adalah kekayaan bangsa yang harus dijaga bersama. Oleh karena itu, setiap pesan yang disampaikan kepada publik—baik melalui media, promosi, maupun kampanye—harus memerhatikan etika, terutama jika menyangkut kepercayaan dan keyakinan umat beragama.
Baru-baru ini, beredar sebuah video promosi wisata yang menampilkan anak-anak dan remaja sedang mempromosikan tempat-tempat wisata budaya seperti Candi Borobudur, Candi Ceto, dan Pringgodani. Namun yang menjadi masalah bukan tempatnya, melainkan narasi yang disampaikan. Dalam video itu terdengar kalimat seperti:
“Orang-orang mah mau ke Tanah Suci kudu bayar puluhan juta, kadang sampai antre. Kita mah modal sejuta udah bolak-balik… minimal umroh ke Pringgodani, Candi Ceto, Candi Sukuh, Candi Borobudur…”
Kalimat ini menimbulkan keresahan di tengah masyarakat, khususnya umat Islam. Sebab, ibadah haji dan umrah adalah ibadah suci yang tidak pantas dibandingkan dengan wisata ke situs budaya. Ini bukan soal mana yang lebih murah atau mudah dijangkau, tetapi soal menghormati apa yang diyakini suci oleh jutaan orang.
Etika Komunikasi Harus Jadi Prioritas
Promosi wisata adalah hal yang sah dan penting untuk mendukung pariwisata dan ekonomi lokal. Tapi ada batas-batas yang harus dijaga. Di negara yang maju seperti Indonesia, membandingkan tempat wisata dengan Tanah Suci umat beragama jelas tidak etis.
Agama adalah hal yang sakral. Tidak seharusnya dijadikan bahan sindiran, perbandingan, atau guyonan dalam konten publik. Kalimat seperti dalam video tadi bisa menimbulkan salah paham, bahkan perpecahan.
Lebih dari itu, penggunaan anak-anak dan remaja dalam menyampaikan pesan yang menyentil agama orang lain juga sangat mengerikan. Anak-anak harus diajarkan untuk saling menghormati, bukan untuk menyindir keyakinan yang berbeda.
Nasionalisme Jangan Membenturkan Budaya dan Agama
Kita semua cinta budaya Indonesia. Kita bangga punya Candi Borobudur, Candi Ceto, dan peninggalan sejarah lainnya. Namun rasa bangga itu tidak perlu diwujudkan dengan memberi batasan atau memberi batasan pada tempat ibadah umat lain.
AMC menolak cara berpromosi yang menyindir agama atas nama kebudayaan atau nasionalisme. Nasionalisme sejati adalah menjunjung tinggi tanah air tanpa kepercayaan orang lain.
Budaya dan agama adalah dua hal yang sama pentingnya. Keduanya bukan musuh, tapi saling melengkapi dalam membentuk jati diri bangsa.
Sikap dan Seruan AMC
Sebagai lembaga yang fokus pada wawasan kebangsaan dan etika publik, Amir Mahmud Center (AMC) menyatakan sikap sebagai berikut:
- Setiap bentuk promosi pariwisata harus menghormati agama dan tidak menggunakan simbol keagamaan sebagai bahan perbandingan atau sindiran.
- Konten publik seharusnya melibatkan ahli komunikasi, tokoh agama, dan budayawan agar tidak merugikan perasaan masyarakat.
- Anak-anak dan remaja tidak dapat dijadikan alat untuk menyampaikan pesan-pesan yang berisiko memicu konflik sosial atau menyentuh ranah kepercayaan.
- Kita semua perlu menjaga ruang publik agar tetap sehat, bersih dari hasutan, dan tidak memecah belah.
Mari Jaga Narasi Publik yang Bermartabat
Kita percaya bahwa bangsa ini akan tetap kuat jika rakyatnya saling menghormati. Etika komunikasi adalah bagian dari tanggung jawab bersama, terutama dalam menyampaikan pesan yang ditujukan kepada masyarakat luas.
Kita bisa mempromosikan wisata tanpa menyindir agama. Kita bisa bangga dengan budaya tanpa harus membandingkannya dengan ibadah. Kita bisa bersatu dalam keberagaman jika saling menjaga perasaan dan kepercayaan satu sama lain.
Mari jaga Indonesia dengan narasi yang santun, cerdas, dan tidak terpecah belah.
Karena bangsa yang besar bukan hanya kaya budaya, tapi juga tinggi budi pekerti. (Editor.AMC)
