SEKILAS INFO
Selamat Datang di Website Amir Mahmud Center
Jumat, 5/12/2025

Radikalisme Pasca-Jaringan & Ancaman Baru dalam Wajah yang Tersembunyi

Oleh: Amir Mahmud
(Direktur Amir Mahmud Center )

Radikalisme di Indonesia tidak pernah benar-benar mati. Ia hanya berubah rupa—dari wajah yang terang menjadi wajah yang tersembunyi, dari organisasi besar yang terstruktur menjadi sel kecil, individu, atau bahkan ide-ide samar yang menyusup dalam ruang-ruang formal dan digital.

Setelah organisasi seperti Jamaah Islamiyah (JI) dinyatakan bubar dan Jamaah Ansharut Daulah (JAD) dibunuh, sebagian orang mengira ancaman radikal-teror berakhir. Kenyataannya justru sebaliknya. Struktur boleh hilang, tapi ideologi tidak ikut mati. Ia bermigrasi ke ruang baru: ke jejaring internet, ke pikiran generasi muda, ke ruang kelas, dan lebih mencemaskan lagi—ke dalam tubuh lembaga negara itu sendiri.

Dari Organisasi ke Individu: Era Lone Wolf

Tahun 2019, publik dikejutkan oleh serangan terhadap Menko Polhukam saat itu, Wiranto. Pelakunya bukan kader jaringan formal mana pun, tetapi pasangan suami istri yang terdoktrin secara mandiri melalui internet. Ini bukan kasus tunggal. Model serangan oleh individu (lone wolf) yang didorong oleh narasi keagamaan ekstrem telah menjadi pola dominan sejak 2018. Pelaku-pelaku ini tidak mudah dilacak karena tak tergabung dalam struktur organisasi yang jelas.

Fenomena ini mengubah medan ancaman. Terorisme bukan lagi soal logistik senjata atau logistik manusia, tapi tentang ide logistik: siapa yang menyuplai narasi dan bagaimana mereka menyebar.

Radikalisasi Digital: Algoritma sebagai Medan Perang Baru

Internet kini menjadi “markas” baru kelompok ekstrem. Melalui media sosial, forum tertutup, hingga video pendek, ideologi kekerasan didarkan dan dikemas sedemikian rupa agar tampak ilmiah, heroik, bahkan religius. Penelitian menunjukkan bahwa pelajar, pelajar, dan guru sekalipun telah menjadi sasaran konten seperti ini.

Yang lebih memprihatinkan, konten-konten intoleran seringkali diproduksi oleh mantan anggota kelompok terlarang yang kini tampil sebagai “aktivis moderat”, tetapi menyelipkan doktrin takfiri dalam retorika dakwahnya. Model radikalisasi ini bersifat diam-diam, tidak terdeteksi oleh radar keamanan biasa, namun dampaknya merusak daya kritis dan kebangsaan masyarakat akar rumput.

Bahaya Laten: Infiltrasi ke Dalam Sistem

Dalam beberapa tahun terakhir, muncul kecenderungan baru: radikalisme masuk ke institusi negara. Bukan lagi melalui bom dan senjata, tetapi lewat rekrutmen, jaringan mentoring kampus, seleksi ASN, hingga lembaga keagamaan. Ini bukan isapan jempol. Sejumlah sejarawan, guru, bahkan aparat keamanan diketahui memiliki jejak keterkaitan dengan organisasi terlarang di masa lalu, dan kini aktif menyebarkan narasi eksklusif dan anti-Pancasila secara lembut.

Fenomena “pemutihan identitas” ini berbahaya karena sulit dibedakan antara siapa yang sungguh-sungguh tobat dan siapa yang hanya menyamar untuk menanamkan kembali ide lamanya. Kita dihadapkan pada infiltrasi yang cerdas, sabar, dan sistematis.

Radikalisme Non-Agama: Nasionalisme yang menabung

Tak semua radikalisme berbasis agama. Dalam beberapa tahun terakhir, ekstremisme berbasis identitas etnis dan nasionalisme sempit juga menunjukkan gejala yang memburuk. Di berbagai daerah, kita menyaksikan penolakan terhadap rumah ibadah minoritas, kebencian berbasis suku, hingga gerakan “patriotik” yang mengarah pada eksklusivisme sosial dan delegitimasi pluralisme.

Hal ini menunjukkan bahwa radikalisme bukanlah monopoli satu agama atau ideologi. Ia bisa muncul dari siapa saja yang menolak kebersamaan, membenci perbedaan, dan merasa paling berhak atas negara.

 Ancaman Tak Lagi Berbentuk, Tapi Menyusup dalam Narasi

Hari ini, yang kita hadapi bukan lagi kelompok berpakaian seragam militan, melainkan nalar yang terpapar, narasi yang menyimpang, dan figur yang menyusup ke institusi resmi dengan wajah damai tapi agenda terselubung.

Strategi deradikalisasi tidak bisa lagi hanya berbasis pendekatan hukum dan penindakan. Perlunya pembaharuan total dalam tiga bidang utama:
1. Pendidikan kebangsaan dan ideologi yang kuat di sekolah dan kampus.
2. Literasi digital kritis yang membuat masyarakat tahan terhadap konten beracun.
3. Sistem seleksi dan pengawasan internal di lembaga-lembaga negara dan keagamaan.

Penutup

Radikalisme era baru tak lagi meledak dalam bom, namun mengendap dalam cara berpikir. Jika negara dan masyarakat lengah, kita tidak hanya akan kehilangan keamanan, tetapi kehilangan jiwa kebangsaan kita sendiri. Editor. AMC