SEKILAS INFO
Selamat Datang di Website Amir Mahmud Center
Jumat, 5/12/2025

Refleksi Komjen Pol. Dr. Marthinus Hukom Atas Tragedi JW Marriot

“Peristiwa 5 Agustus 2003 bukan sekadar catatan sejarah dalam dokumen keamanan nasional. Itu adalah luka terbuka bangsa. Bom yang meledak di Hotel JW Marriott Jakarta bukan hanya menghancurkan tembok bangunan, tetapi juga mengguncang rasa aman publik dan mengguncang fondasi kemanusiaan kita sebagai bangsa yang cinta damai.

Masih ingat betul suasana saat itu: kepanikan, darah, tubuh-tubuh yang tergeletak, dan tangis mereka yang kehilangan orang tercinta. Peristiwa itu membuat kita semua tersadar, bahwa ancaman terorisme bukan sekadar isapan jempol atau isu luar negeri yang jauh dari realitas kita. Terorisme itu nyata, tumbuh, dan bisa menjelma menjadi kekuatan destruktif yang menghantam jantung kehidupan sipil.

Sebagai bagian dari jajaran penegak hukum yang bertanggung jawab kala itu, saya menyaksikan bagaimana Polri—dengan segala keterbatasan, baik dari sisi teknologi, sumber daya manusia, bahkan pengalaman menghadapi teror skala besar—bergerak. Kami tidak punya banyak waktu untuk merenung. Kami harus bertindak cepat. Kami mengejar mereka yang berada di balik ledakan itu. Kami menyusun potongan-potongan bukti yang berserakan, menelusuri jaringan, memetakan alur pergerakan pelaku, dan menyusun strategi penegakan hukum dengan tetap menjunjung tinggi prinsip keadilan.

Alhamdulillah, kami berhasil. Pelaku berhasil diungkap. Jaringan berhasil dibongkar. Indonesia tidak runtuh. Dunia melihat bahwa kita tidak menyerah. Bahwa kita bangsa yang kuat.

Tetapi perlu digaris bawahi satu hal yang sangat penting: keberhasilan itu bukan tanpa harga. Di balik semua itu ada pengorbanan. Ada darah. Ada air mata. Ada aparat yang terluka, ada keluarga yang kehilangan, dan ada beban psikologis yang masih tertinggal hingga hari ini.

Oleh karena itu, saya mengajak seluruh anak bangsa—khususnya generasi muda dan para pemangku kebijakan—untuk tidak memandang remeh peristiwa ini. Jangan kita biarkan kenangan dan pelajaran ini memudar seiring waktu. Jangan pula kita tergoda untuk melemahkan institusi-institusi yang telah membuktikan pengabdiannya. Karena sekali kita abai, sejarah kelam bisa terulang.

Saya katakan dengan tegas: tolong, jaga dan hormati prestasi ini. Bukan demi kami, tapi demi bangsa. Karena ketika bangsa ini diserang, mereka yang pertama kali maju bukanlah komentator, bukan pengamat, tetapi mereka yang diam-diam berjaga, mengabdi, dan mempertaruhkan nyawanya demi tanah air ini.” Editor Amir