Oleh: Amir Mahmud
Direktur AMC
Solo, 8 Juli 2025 – Di tengah tantangan zaman yang semakin kompleks, ceramah Dr. Zakir Naik di Edutorium Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menjadi oase spiritual sekaligus intelektual. Dengan tema “Salaah: Pemrograman Menuju Keadilan ,” tokoh internasional ini mengajak umat Islam untuk kembali pada esensi ibadah sebagai pembentuk karakter dan peradaban. Ini bukan sekedar ceramah dakwah, melainkan mengingatkan global tentang makna Islam sebagai agama ilmu, amal, dan rahmat sosial.
- S h alat Sebagai Rekonstruksi Mental dan Moral
Dr. Zakir Naik tidak menawarkan gagasan baru, tetapi menghidupkan kembali esensi yang terlupakan: shalat bukan ritual kosong, melainkan proses rekonstruksi batin. Dengan gaya khasnya yang logis dan retoris, ia menyebut shalat sebagai “programming of the soul ”—sebuah proses internalisasi nilai yang membentuk pribadi yang bertakwa, jujur, dan antikorupsi.
Dalam konteks bangsa, ini penting. Jika umat Islam di Indonesia benar-benar menghidupkan shalat sebagai nilai etis, bukan sekadar formalitas, maka kita akan menyaksikan birokrasi yang bersih, politik yang beradab, dan masyarakat yang sadar akhlak .
- Pendidikan Dunia-Akhirat: Bukan Dualisme, Tapi Keseimbangan
Melalui sang putra, Syaikh Fariq Naik, ditekankan pentingnya pendidikan yang menyatukan dunia dan akhirat. Pendidikan bukan sekadar transmisi pengetahuan teknis, tapi juga penanaman nilai kebenaran dan kesadaran ilahiah . Ini mengkritisi sistem pendidikan modern yang seringkali menafikan aspek spiritual—dan di sisi lain, sebagian pendidikan agama yang miskin kemampuan nalar dan aksi sosial.
AMC melihat bahwa pendekatan ini sejajar dengan kebutuhan iklim nasional hari ini: pendidikan yang membentuk insan kamil, bukan sekadar pekerja atau konsumen.
- Dakwah Inklusif dan Kesalehan Sosial
Shalah satu kekuatan dakwah Dr. Zakir adalah keberpihakannya pada dialog antariman secara logistik namun tetap tegas secara aqidah. AMC mencatat momen penting saat mualaf dan non-Muslim diberi ruang prioritas dalam tanya jawab—sebuah bentuk dakwah beradab dan terbuka, bukan eksklusif dan menakutkan.
Zakir juga menekankan bahwa ketaatan kepada Allah tidak boleh merusak adab kepada sesama manusia, termasuk keluarga non-Muslim. Ini penting dalam konteks Indonesia: pluralitas bukan musuh tauhid, selama umat Islam punya pendirian dan keadaban sekaligus.
- Salat, Peradaban, dan Tanggung Jawab Umat
Dakwah bukan sekedar memurtadkan orang lain, tetapi membangun umat yang sadar posisi sejarahnya sebagai khairu ummah—umat terbaik karena tegaknya amar makruf nahi mungkar. Shalat yang benar akan mendorong keadilan sosial, menolak kekerasan, dan memperkuat solidaritas.
AMC menggarisbawahi bahwa pesan salat sebagai pengontrol perilaku adalah antitesis dari agama yang sekadar simbol atau instrumen politik. Di tengah arus materialisme dan politik identitas, pesan ini sangat relevan dan harus diarusutamakan.
Penutup Dari Shalat Menuju Peradaban
Ceramah Zakir Naik adalah pengingat bahwa Islam bukan sekadar sistem doktrin, tapi menawarkan peradaban—yang menjunjung ilmu, menjamin keadilan, dan menghidupkan spiritualitas.
AMC menegaskan: bangsa ini tidak kekurangan Shalat, tapi mungkin kekurangan pemahaman shalat yang membangun akhlak sosial. Maka, dari Edutorium UMS, mari kita hidupkan kembali Islam sebagai rahmat dan ilmu, bukan sekadar identitas kosong ( Editor.Amir)
