SEKILAS INFO
Selamat Datang di Website Amir Mahmud Center
Jumat, 5/12/2025

Sosial dan Viralitas Kebencian: Tantangan Baru Umat

✍️ Oleh:AmirMahmud/AMC

“Jari‑jari kita kini lebih cepat menekan tombol share daripada menimbang maslahat.”

1️. Ruang Dakwah yang Jadi Arena Konflik

Indonesia memiliki 143 juta identitas pengguna media sosial pada awal 2025—lebih dari separuh populasi. Platform yang mulanya diharapkan memperluas dakwah justru kian dipenuhi ujaran kebencian, teori konspirasi, dan ajakan radikal.

2️. Algoritme: Mesin Perang yang Tak Terlihat

Penelitian lintas‑kampus di AS mendapati lonjakan berkelanjutan ujaran kebencian di X (Twitter) sepanjang 2024‑2025; bahkan unggahan bernada benci memperoleh dua kali lebih banyak likes dibanding konten biasa. Studi lain menunjukkan algoritme TikTok melipatgandakan konten misoginis hanya dalam lima hari pemakaian biasa. Begitu minat terhadap satu video ekstrem terdeteksi, platform mengurung pengguna dalam “interesttrap”—lingkaran rekomendasi yang makin keras.

3️. Dari Hate ke Radikal

BNPT mencatat lebih dari 3 000 akun medsos pemicu radikalisme diputus aksesnya selama 2024.  Direktur Deradikalisasi BNPT menegaskan bahwa gawai “tanpa batas” adalah lahan subur kelompok ekstrem, sehingga dibutuhkan kolaborasi pentahelix—negara, masyarakat, ulama, akademisi, dan swasta—untuk menahannya.

4️. Mengapa Konten Benci Lebih Cepat Viral?

  1. Ekonomi Atensi – Platform meraup laba dari durasi tatap layar; konten yang memicu marah & takut terbukti menaikkan engagement.
  2. Konfirmasi Bias – Pengguna cenderung menyebarkan informasi yang menguatkan prasangka, bukan membantahnya.
  3. Anonimitas & Kecepatan – Identitas samar + klik instan = minim rem moral.

5️. Tugas Umat Islam: Menyaring & Menyala

  1. Literasi Digital Berbasis Tauhid
  • Ajarkan kaidah tabayyun sebelum share (QS 49:6).
  • Kenali rambu hoaks & framing kebencian.
  1. Produksi Konten Cahaya
  • Ganti narasi “us‑versus‑them” dengan kisah rasional, solutif, dan bernapas syariah.
  • Manfaatkan humor, desain estetis, dan data; algoritme juga “suka” konten yang menarik—tinggal kita isi dengan kebaikan.
  1. Kolaborasi Ulama‑Teknokrat
  • Bangun kanal dakwah terverifikasi.
  • Dukung riset AI moderation berbasis maqāṣid syariah agar penapisan kebencian tak memukul dakwah substantif.
  1. Advokasi Kebijakan Publik
  • Dorong transparansi algoritme dan safety‑by‑design sebagaimana disorot parlemen UK pasca‑kerusuhan 2024.
  • Kawal penegakan UU ITE agar tegas pada ujaran benci, sekaligus adil melindungi kebebasan berpendapat.

Dakwah Era Digital Butuh Etika Baru

“Cahaya Islam tidak pudar karena komentar sinis, tapi bisa redup bila kita sendiri menambah gelapnya ruang digital.” — AMC Editorial

Media sosial hanyalah alat. Ia bisa menjadi mimbar ilmu atau megafon kebencian—bergantung siapa yang memegangnya. Saat ruang daring dipenuhi noise ekstrem, umat Islam wajib tampil bukan sebagai polisi moral yang galak, tetapi penebar pencerahan yang tangguh.

Mari menulis, merekam, dan membagikan cahaya. Agar algoritme—yang kini “membaca” iman melalui klik—ikut bekerja untuk kebajikan, bukan kebencian.  Editor.Amir